Sabtu, 29 Januari 2011

The Queen Of Shopping

Membahas masalah seputar perempuan memang tidak akan ada habisnya, termasuk juga dalam perilaku berbelanjanya. Baik berbelanja yang memang merupakan sebagai suatu kebutuhan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, ataupun belanja yang juga merupakan hobi. Nah, berbicara tentang berbelanja yang telah menjadi sebuah hobi atau life style, tidak hanya dilakoni oleh masyarakat kelas menengah ke atas (kaum borjuis, jetset, selebriti, dll) tapi juga kelas menengah ke bawah, yang paling simple dikenal dengan jajan kali yah.

Temans.. Saya ingin berbagi tentang perilaku berbelanja perempuan di sekitar saya,. Yang paling terdekat tentunya adalah Ibu saya, Beliau adalah perempuan yang begitu selektif dalam membelanjakan uangnya. “cari duit itu susah neng!” kata Ibu yang memang berkarir di luar rumah. Kalau didramatisir mungkin ibarat membanting tulang dan memeras keringat (lebay mode on). Untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, Ibu biasa berbelanja di pasar sekali seminggu, biar lebih hemat dibandingkan berbelanja di warung atau tukang sayur keliling. Sedangkan kalau untuk membeli pakaian beserta atribut perempuan lainnya, Ibu memang lebih suka yang sedikit “mahal dan bermerk” karena kualitasnya bagus sehingga bisa tahan lama saat dipakai, masalah trend yang cepat sekali berubah, Beliau tidak pernah ambil pusing.

Berhubung saya adalah anak perempuan satu-satunya dikeluarga, maka yang selanjutnya adalah sepupu saya yang seorang full time mother (minjem istilahnya mbak Jazim ^_^), nah kalau yang ini benar-benar tukang belanja tulen, nggak perduli mo awal bulan, tengah bulan, atau akhir bulan. Begitu terpikir pengen belanja, langsung dech ngacir. Belanjanya juga nggak banyak-banyak, tapi kebanyakan nggak penting. Sepupu saya selalu berkilah kalau saya menolak ajakannya untuk ngisi “absen” di mall atau swalayan lainnya. “nggak usah belanja, kita cuma mo jalan-jalan cuci mata ngilangin suntuk aja kok, paling cuma modal bensin sama duit buat makan atau ngemil doang”. walaupun nggak niat belanja alias cuma “cuci mata”, tapi tetep aja kebobolan, capeeee.. dech. Alhasil, sekalipun duit cash nggak cukup, tinggal ngeluarin “kartu ajaib” (kartu debet atau kartu kredit) aja, walaaah..

Nah lain lagi dengan salah seorang teman saya, gemar belanja dengan sistem pembayaran nyicil alias kredit. Mulai dari perabotan rumah, barang pecah belah, pakaian beserta asesorisnya, weleh-weleh.. pokoke dahsyat daaah. Sangat berbanding terbalik dengan temen saya yang satunya lagi, yah miss irit. Saking iritnya sampai-sampai masih menggunakan produk yang terlihat sudah tidak layak pakai. Herannya lagi, ia lebih suka berbelanja “barang second” dengan alasan walaupun murah tapi tetap gaya karena buatan luar negeri, ckckckc..

Berbagai macam yah pola belanja perempuan, pantas saja sampai ada istilah The Queen Of Shopping.Wahai para perempuan, baik yang masih single ataupun yang sudah berkeluarga, bagaimana pola belanja Anda?. Sudahkah Anda masuk ke dalam kategori Shop smart atau smart buyer?.

Kamis, 25 Februari 2010

Shooting Star

Suatu hari nanti, coba kau tunjuk satu bintang sebagai pendar harapan mu. Kau tau.. terkadang ia bisa terang menderang mengalahkan pendar lainnya, tapi ia bisa begitu redup bahkan menghilang ditelan pekat malam dan tangis langit jingga. Cobalah mengerti, kau hanya perlu sabar menanti tiap detik menjadi menit dan tiap menit menjadi jam bahkan bulan ataupun menahun. Tak apa, kau butuh ikhlas yang akan membuat mu merasa diguyur es sewaktu di padang pasir. Menagislah karena itu refleksi jiwa yang membuat mu masih merasa manusia, cukup, karena banjir bandang sekalipun tak akan membalikkan waktu barang sedetik, kau cukup melongok sejenak dan mengemas semuanya ke dalam kopor berjudul masa lalu dan bergegas melangkah ke masa depan.

Suatu hari nanti, jangan tunjuk bintang lainnya untuk menggantikan bintang mu, ia akan bernasib sama. Kau cukup pandangi saja atau menyapanya lewat angin malam yang sama. Lalu tanyakan kepada bunda rembulan mengapa sabit atau purnama. Kau merasa terjebak dalam pusaran waktu, mengapa memilih gemintang bukan rembulan, seperti kau bandingkan antara siang dan malam. Tak perlu sungkan, itu suatu kewajaran mengingat kembali bahwa kau adalah manusia. Bosan dan amarah bisa saja meraja, mengalahkan segalanya, tapi tanyakan hati mu dimanakah akan berlabuh.

Suatu hari nanti, coba kau tunjuk satu bintang sebagai pendar harapan mu. Kau takkan mampu menghindar, karena cahayanya menikam sanubari mu, menjadi desahan nafasmu dan mengaliri darah mu, membuat mu megenal hidup dan mati. Kau mampu menjawab segalanya, karena malam menguntai berjuta makna, dalam nyata ataupun lelap mu.

Suatu hari nanti, coba kau tunjuk satu bintang sebagai pendar harapan mu. Pastikan yang terbaik dari yang kau mampu. Maka, aku langit malam mu.

Pengikut